Dalam setiap masa kehidupan ketika kita berkaca dari sejarah
masa lampau, kita akan mendapatkan pasang surut ritme ketaatan spiritual
masyarakat terhadap Tuhannya.
Sejarah dimulai dari peran nabi Nuh as. ketika mendakwahi
umatnya. Jeda waktu yang begitu panjang dari nabi Adam as. Ke masa nabi Nuh as.
Sekitar sepuluh abad menurut Ibnu Abbas, menjadi penyebab utama melencengnya
akidah umat kala itu.
kaum nabi Nuh as. menjadikan para tokoh spiritual mereka disembah
dan dipuja layaknya Tuhan, bahkan mereka berani meminta-minta kepada patung-patung
tokoh mereka yang semula dibuat hanya untuk memperingati jasa mereka. Nama para
tokoh tersebut yakni, Wadd, Ya’uq, Yagust,
Suwwa dan Nasr.
Nabi Nuh as. Tampil memberikan pencerahan kepada umatnya.
Namun apa yang diterima nabi Nuh as. selain celaan dan cercaan saja, hingga
nabi Nuh as. disangka gila karena ide pembuatan kapal di atas sebuah gunung.
Beratus tahun berdakwah mengajak umat kembali ke jalan yang
benar, tetapi hanya segelintir hitungan jari saja yang mau mendengar dan
menjadi pengikutnya. Istri dan anaknya sendiri yakni Kan’an keras menolak
dakwah sang ayah. Akhirnya kaum nabi Nuh as. Dibinasakan Allah dengan air bah.
Masa selanjutnya adalah pembangkangan kaum ‘Ad yaitu kaumnya
nabi Hud as., mereka dibekali kepandaian oleh Allah memahat gunung serta
memiliki fisik yang kuat lagi kekar sebagai modalnya. Namun kelebihan itu tidak
mereka syukuri bahkan menjadi kesombongan bagi mereka.
Allah mengutus nabi Hud as. Untuk memperingati kaumnya agar bersyukur
dan taat kepada perintah Allah. Kesombongan mereka semakin menjadi-jadi
akhirnya Allah binasakan mereka dengan angin puting beliung yang membawa hawa
dingin tujuh malam delapan hari.
Sampai pembangkangan itu di zaman nabi Muhammad Saw. ketika
kaum Quraisy sudah tak mengindahkan lagi ajaran monoteisme dari leluhur mereka,
ditandai dengan merebaknya patung-patung untuk dijadikan sembahan.
Maka diutuslah sang Nabi Akhir zaman untuk meluruskan akidah
umat, dengan pribadi yang penuh kasih sayang Nabi Saw. mulai menata kehidupan
akidah umatnya, kemudian memperbaharui moralnya, seterusnya struktur sosial dan
ke segenap sendi kehidupan umat Islam. Tak ada satu pun yang lepas dari napas
Islam semua sendi kehidupan umat Islam terisi penuh oleh ajaran-ajaran mulia
ini.
Masih banyak lagi pemisalan-pemisalan dari para pembangkang
Tuhan yang akhirnya dibinasakan Allah. Semua itu adalah cermin bagi umat
kemudian termasuk kita semua jika kita cerdas mengambil pelajaran dari setiap
kejadian masa lalu.
Pasang surutnya ketaatan itu nampaknya akan tetap ada selama
bumi masih ada, namun coraknya tentu saja bisa berbeda-beda. Maka pertanyaannya
tugas siapakah untuk mengembalikan umat ini kembali ke rel yang benar. Di pundak
siapakah kewajiban ini terbeban.
Setelah para pembawa risalah Tuhan tiada maka pewaris utama
dari pelanjut estafeta dakwah ini tentulah ahli warisnya, siapa dia? Atau siapa
mereka? Merekalah para ahli ilmu. Sebagaimana Nabi sabdakan “Bahwa ulama itu
pewaris para nabi.”
Peran ulamalah hari ini yang sangat dibutuhkan umat untuk
memberi pencerahan akidah, meluruskan arah moral dari penyimpangan-penyimpangan
agar umat tetap di jalan yang benar yaitu seperti jalan yang ditempuh para nabi
dulu.
Nasihat para ulama ini pula yang selalu di nanti agar fondasi
akidah tetap kokoh di tempatnya. Seperti halnya para nabi, para ulama pun
berperan hanya sebagai penyambung mata rantai risalah saja mereka sama sekali
tidak mempunyai wewenang untuk memaksa seseorang menjadi taat dan setia kepada
apa yang diajakkan.
Mereka hanya sang penyampai saja, menyampaikan apa yang harus
disampaikan dan tidak menyampaikan apa yang seharusnya tidak disampaikan.
Adapun umat mau menerima ajakan atau bahkan menolak itu urusannya Allah yang
mengatur.
Bahkan Nabi Saw. pun pernah ditegur bahwa nabi sekali-kali
tidak akan bisa memberi hidayah karena
hidayah itu urusan Allah Swt. masalah hidayah hanyalah hak prerogatif Allah.
Para pengemban amanah hanya berwenang untuk menyampaikan
amanahnya saja. Jangankan untuk memaksa orang lain ikut dalam aturan agama
Allah. Nabi Nuh as. sendiri tak punya kuasa memaksa istri dan anaknya untuk
mengikuti ajakannya. Nabi Luth as. Pun demikian dia tidak bisa merayu istrinya
untuk mengikuti risalah Allah.
Demikianlah adanya bahwa hidayah itu mahal memang benar. Tidak
mampu serta merta merasuk pada setiap
orang yang telah mendengar dakwah para mubalig. Dia akan masuk ke hati, hati
yang Allah bukakan dan semuanya atas kehendak Allah semata.
Para mubalig tidak dibenarkan memaksa orang agar ikut apa
yang diajarkan. Para mubalig hanya bertugas menyampaikan saja tidak lebih dari
itu karena selebihnya urusan Allah Swt.
Selain para ulama dakwah pun menjadi bagian tugas yang tak
terpisahkan dari setiap muslim. Semua Muslim berkewajiban menyampaikan risalah
Allah sesuai dengan kapasitas keilmuannya masing-masing. Karena Nabi Saw. Bersabda
sampaikanlah dariku walau satu ayat. Jadi bagi para pengikut Nabi Saw. secara
otomatis mereka merupakan pelaku dakwah.
Komentar
Posting Komentar