Langsung ke konten utama

Jangan Memonopoli Dakwah

 

Suatu keniscayaan dalam menggolkan satu perkara yang besar tidak bisa dilakukan secara parsial dan atau sendirian, mesti memerlukan partner untuk bekerja sama merencanakan program-program dan melaksanakannya.

Sejarah mengatakan bahwa dakwah parsial hanya akan menghasilkan kubu-kubuan.

Persatuan Islam sebagai salah satu tujuan pun akan sulit tercapai jika para pelaku dakwah masih gontok-gontokan saja.

Banyaknya organisasi Islam sudah cukup menjadi alasan penyebab renggangnya ikatan kebersamaan, masing-masing organisasi memiliki program dakwah sendiri.

Ditambah lagi  di ranah politik pun Islam masih belum bisa disebut bersatu. Kendati mayoritas penduduk di Indonesia menganut Islam namun keterbelahan pilihan politik menyebabkan Islam tak punya suara yang signifikan di parlemen.

Melihat kenyataan ini haruslah para tokoh Islam mencari titik temu yang sama agar metode dakwah yang berbeda ini tidak menyebabkan pertentangan antar sesama kaum Muslimin. Terutama akar rumput yang terkadang terprovokasi oleh hal yang sepele.

Ketika elite berpikir bahwa persatuan untuk membumikan Islam itu harus dikerjakan bersama-sama, maka jalan keluarnya adalah mereka harus berkumpul untuk melebur atau paling tidak bersinergi antar organisasi dakwah untuk menggolkan tujuan bersama. Kerjasama ini sangat penting demi ke maslahatan bersama.

Sinergitas antar organisasi dakwah dan pemerintah

Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) menyampaikan sinergi pembangunan keagamaan antar-pemerintah dengan dan antar-ormas Islam melalui jalur dakwah sebagai pembinaan masyarakat sangat penting.

Jika sinergi tidak terbangun dengan baik antara pemerintah dengan ormas-ormas dan di antara sesama ormas, maka bisa saja akan muncul ekses kesalahpahaman.

Bahkan bisa terjadi mispersepsi di antara program pembangunan pemerintah dengan orientasi dakwah keagamaan ormas-ormas. kata Wakil Ketua Umum PP Persis, Ustadz Jeje Zaenudin kepada Republika.co.id, Ahad (2/8/20).

Banyaknya organisasi / komunitas dakwah memungkinkan mereka untuk menjajaki kerjasama dalam berdakwah.

Kita ambil contoh dalam dakwah pelosok banyak komunitas dakwah yang ambil bagian, baik komunitas lokal atau nasional. Seperti Persatuan Islam (PERSIS), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya.

Ketua Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis menjelaskan, peta dakwah itu merupakan kumpulan data-data dan informasi mengenai umat Islam di suatu wilayah. Data berguna dalam merumuskan strategi dakwah yang tepat. Hal ini penting, mengingat masing-masing wilayah perlu didekati dengan metode dakwah yang berbeda.

 

"Dengan peta ini diharapkan lebih maksimal sinerginya," ujar dia kepada Republika, Rabu (7/9/16).

Pernyataan tersebut mengarah pada pentingnya memiliki peta dakwah yang riil agar memudahkan setiap elemen dakwah berpartisipasi di dalamnya.

Sinergi antar komunitas dakwah menjadi penting selain mewujudkan kebersamaan juga ajang konsolidasi bagian mana dalam dakwah yang masih timpang.

Usaha-usaha untuk menyinergikan organisasi dakwah ini di amini sejumlah ormas. Keteraturan dan kerapian dalam penyusunan program dapat berimbas pada perkembangan dakwah yang positif.

Kemampuan setiap ormas tentunya berbeda-beda maka dengan adanya gagasan pemetaan objek dakwah ini, dapat membantu dengan mudah terlaksananya agenda dakwah.

Peta dakwah ini didasari atas perbedaan perilaku  atau kebutuhan dari objek dakwah sendiri. Dari mulai kesadaran umat, peningkatan pemahaman dan pemberdayaannya. Dan adanya kekhawatiran “saling rebut” umat.

Tanggapan sejumlah ormas tentang pentingnya Sinergitas dalam dakwah

Ketua umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) periode 2015-2020, Ustadz Mohammad Siddiq mengatakan, bahwa sinergi dakwah antar ormas baru terlaksana dalam skala kecil saja.

Sinergi antar dua ormas belum merambah menjadi multiormas. Seperti DDII dengan Muhammadiyah, atau DDII dengan Hidayatullah.

Dia juga mengharapkan Majelis Organisasi Islam (MOI) dapat membantu sinergi tersebut. Lembaga yang dibentuk sejak 2014 belum berjalan efektif.

MOI merupakan forum organisasi dakwah yang beranggotakan sejumlah ormas Islam seperti DDII, al-Irsyad, Persatuan Islam (Persis), dan Ikatan Dai Indonesia (Ikadi).

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail menyebutkan, ada kelompok Muslim yang merasa paling benar daripada kelompok lainnya. Hal itulah yang menjadi salah satu kendala untuk bersinergi dalam dakwah.

Setiap kelompok pada umumnya sudah mempunyai program masing-masing. Karena itu, ada kalanya tiap kelompok memilih menjalankan program sendiri daripada bekerja sama, lanjutnya.

Menurut Kiai Satori, sinergi dakwah mutlak dilakukan di tingkat lokal, daerah, nasional, hingga internasional. Sebab, keterpurukan umat berpeluang terjadi jika tak ada sinergi dakwah.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid juga mengingatkan agar lembaga-lembaga dakwah saling bersinergi. "Sangat bagus bila antar lembaga dakwah bersinergi, bukan saling menafikan," katanya saat menerima delegasi Cordofa (Corps Da'i Dompet Dhuafa) di kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (6/9/16).


Wakil ketua umum PP Persis Ustadz Jeje Zaenuddin mengatakan, pembangunan keagamaan di Indonesia dilakukan ormas Islam melalui jalur pendidikan sudah berlangsung lama sekali.

Bahkan dilakukan sejak sebelum Indonesia merdeka. "Yaitu dengan corak pendidikan khusus pesantren maupun pendidikan umum yang diintegrasikan dengan pendidikan agama," ujarnya.

Ia mengatakan, sampai saat ini pesantren dan pendidikan umum yang dijalankan ormas terus berlangsung bahkan terus berkembang baik kuantitas maupun kualitasnya.

Keberadaan puluhan ribu pesantren yang dibangun ormas-ormas Islam di seluruh pelosok Indonesia tentu saja memudahkan sekaligus meringankan beban tugas pemerintah dalam melaksanakan kewajiban utamanya di bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dakwah bukan monopoli satu orang atau satu golongan semua orang Islam harus mengisi ruang kosong dalam berdakwah, sinergi antar organisasi dakwah merupakan salah satu cara untuk mempermudah kerja dakwah.

Komentar