Langsung ke konten utama

Lika liku Dakwah

Dakwah secara bahasa artinya mengajak . Secara istilah berarti mengajak orang lain untuk mengikuti ajaran-ajaran Allah SWT yang di contohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sudah menjadi suatu kata yang familier bahwasanya dakwah itu selalu disematkan kepada suatu ajakan kebaikan di dalam Islam. Namun sebenarnya dakwah itu tidak hanya tertuju bagi seorang


Muslim saja, bisa saja kata dakwah dipakai oleh Setan.

Dalam hal ini Setan tak henti-hentinya berdakwah mengajak manusia untuk mengikuti jejaknya menjadi penghuni neraka. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kata dakwah itu disandarkan dengan kata Islam, menjadi dakwah Islamiyah.

Artinya mengajak untuk berserah diri kepada Allah SWT. Selain dakwah ada juga kata lain yaitu Tablig. Artinya menyampaikan.

Dalam hal ini menyampaikan kebenaran yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Kalau dakwah pelakunya disebut Da’i, sementara tablig pelaku disebut Muballig.

Secara esensi artinya sama saja. Setiap orang yang mengaku dirinya seorang Muslim dan telah balig terkena kewajiban berdakwah atau bertablig sesuai dengan kapasitasnya.

Konsekuensi jika dakwah ditinggalkan adalah merebaknya kemaksiatan, dan menyebarnya perilaku amoral yang keluar dari norma kemanusiaan. Manusia akan jauh dari Tuhannya, karakter kebinatangan akan menyebar karena tidak ada aturan yang mengikatnya.

Manusia sesama manusia akan saling menerkam, yang kuat akan memangsa yang lemah keadilan hilang karena para penyebar dakwah sudah meninggalkan peran mereka untuk menjaga keharmonisan hidup, norma dan rasa sebagai manusia tetap ada.

Manusia jika tidak dibatasi aturan atau hukum yang mengikat mereka, maka apa bedanya manusia dengan binatang.

Karena hukum, terlebih hukum Islam mengatur bagaimana hubungan antara manusia dengan manusia, orang tua dengan anaknya, laki-laki dengan perempuan dan seterusnya.

Aturan-aturan itu hanya ada pada norma agama jadi penyampaian agama Islam adalah satu kemestian jika ingin kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan ketenteraman khususnya dalam bidang rohani.

Adapun tahapan-tahapan dakwah adalah: pertama, mengajak manusia dengan cara hikmah/bijaksana. Artinya ajaklah umat manusia ini ke jalan Allah dengan lemah lembut, sentuh hatinya, sentuh pula jiwanya. Jika jiwa bertemu dengan jiwa, hati bertemu dengan hati maka biasanya lebih cepat  memahami dan menerima.

Itulah dakwah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Semua yang diajaknya langsung tersentuh hatinya dan tak seberapa lama menerimanya dengan lapang dada.

Adapun yang keras hatinya mereka menolak karena hidayah belum masuk ke relung hati yang paling  dalam.

Kedua, berdakwah dengan cara memberi nasihat yang baik. Allah ta’ala menjanjikan pengampunan dan karunianya bagi siapa saja yang terbuka hatinya dengan dakwah Islam.

Dua hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia yaitu ampunan dan karunia dari sang pencipta. Ampunan ( magfirah ) itu sangat lah dibutuhkan oleh setiap manusia mengingat bahwa setiap manusia tak akan luput dari perkataan dan sikap bersalah. Maka ampunan inilah sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia.

Hal yang kedua adalah karunia ( fadilah ) dari Allah. Ini pun tak kalah pentingnya, keutamaan – keutamaan yang datang dari Allah bisa saja berupa ditambahnya ilmu atau dilancarkannya rizki yang sangat dibutuhkan oleh manusia, mungkin pula kesehatan jasmani.

Singkatnya tanpa magfirah dan fadilah dari Allah SWT. Manusia akan menjadi lemah.

Metode dakwah yang ketiga adalah, berdebatlah dengan cara yang baik. Metode berdakwah dengan cara berdebat ini merupakan jurus pamungkas dalam berdakwah, artinya ketika ajakan secara bijaksana dan nasihat yang baik tak dihiraukan maka dengan cara berdebat inilah jalan terakhir untuk mengenalkan syariat Islam.

Berdebat pun harus ada ilmunya, tak sembarang orang mampu menguasai ilmunya. Semua fan ilmu syariat harus dikuasai jangan sampai salah yang akhirnya terjerumus dalam kesesatan berpikir dan salah menyimpulkan.

Hendaklah arah perdebatan mampu membawa lawan menyadari kekeliruannya dan memahami hukum – hukum Islam kemudian menyatakan tunduk dan mengikuti ajaran Islam tanpa paksaan.

Pijakan dakwah bagi seorang Muslim adalah, Q.S Ali imran ayat 104 yang berbunyi "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Sangatlah jelas setiap individu Muslim berkewajiban berdakwah tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dirinya. Bertujuan memerintahkan orang kepada kebaikan ( makruf )  dan mencegah orang dari berbuat munkar.

Apa itu makruf dan apa pula itu munkar. Makruf adalah perbuatan baik yang sudah berlangsung di tengah – tengah masyarakat dan baik pula di anggap oleh agama. Sementara munkar adalah perbuatan tercela dalam pandangan Allah ta’ala.

Contoh perbuatan makruf adalah berbagi harta kepada sesama umat manusia, itu baik menurut kacamata manusia dan baik pula menurut agama.

Contoh perbuatan munkar adalah seorang Muslim yang berkewajiban melaksanakan Shalat lima waktu sehari semalam namun dia masih berani meninggalkannya.

Sejatinya para Da'i hari ini adalah pelanjut risalah Nabi sejak 14 abad silam. Secara runut Nabi saw, ajarkan segala macam keilmuan menyangkut ketauhidan, ibadah mahdoh dan mu'amalah.

Lengkap sekali Nabi saw, wariskan semua keilmuannya kepada para sahabatnya, demikian pun para sahabat ajarkan kepada para tabi'in kemudian tabi'ut tabi'in sampai kepada para ulama mutaqoddimin hingga ulama muta'akhirin, sampailah kepada kita.

Akhirnya risalah itu mau tak mau harus menjadi kewajiban kita melanjutkan warisan termahal dari Nabi saw ini. Nabi saw lahir membawa kabar gembira (basyiran) dan ancaman (nadziran).

Kita pun demikian tak ada yang berubah dari risalah ini estafeta dakwah harus kita lanjutkan sebagai pembawa kabar gembira dan ancaman. Namun tetap harus di bawakan dengan cara-cara yang baik bijaksana.

Agar umat ini tak lari sebelum menerima ajaran mulia ini gara-gara penyampaian yang kasar tanpa adab dan ilmu.

*ds

Komentar