Langsung ke konten utama

Dakwah dengan Teladan Bukan Paksaan

 


Seorang Muslim yang sadar akan tujuan agamanya akan dapatlah memahamkan bahwasanya tujuan suatu dakwah inilah yang terutama, yaitu menjelaskan kebebasan dan kemerdekaan diri, di bawah lindungan Allah SWT semata.”(HAMKA)

Awal mula dakwah Nabi saw. mencontohkan dengan teladan, begitu juga para Rasul sebelumnya tidak ada seorang pun kecuali mereka memberi contoh terlebih dahulu sebelum mereka mengajak orang lain.

Karena hakikat dakwah adalah sampainya apa diajakkan kepada objek dakwah, sehingga tidak mungkin sampai tanpa ada teladan.

Tentang keteladanan ini Allah Swt. telah jelaskan dalam firman-Nya, "Sungguh pada diri Rasulullah itu ada teladan yang baik bagi kalian." (Al-Ahzab. 21)

Ya, memang benar Rasulullah saw. tidak pernah memerintah seseorang atau melarang seseorang, sebelum beliau sendiri yang mengerjakannya atau beliau sendiri yang memulai untuk meninggalkannya.

Dalam hal sedekah, Baginda selalu memberi contoh yang baik, sehingga Beliau terkenal sekali kedermawanannya apalagi di bulan Ramadan lebih lagi dermawannya.

Mampukah seorang Da’i hari ini mengejawantahkan akhlak Rasul saw., tentu takkan sesempurna Beliau karena di samping zamannya sudah sangat jauh berbeda, juga karakter budaya sangat memengaruhi pola hidup masyarakatnya.

Tinggal di daerah dengan iklim yang panas, tentu sangat berdampak pada pola hidup warganya yang cenderung keras karena terbentuk secara alamiah.

Begitu pun masyarakat yang tinggal di pegunungan, sangatlah berbeda dengan mereka yang tinggal di pesisir pantai. Jadi letak geografi dimana seseorang tinggal sangat signifikan memengaruhi perilaku kehidupannya.

Berkaitan dengan dakwah semisal Nabi saw., maka yang mesti diwujudkan adalah seberapa maksimal usaha kita untuk meneladani junjungan kita Nabi saw. tentang akhlak atau norma hidup Beliau sehari-hari.

Maksimal dalam meneladani perihidup Nabi saw. inilah yang semestinya kita lakukan pertama kali, sejauh mana usaha kita meneladani sunnah-sunnahnya, apa yang mampu kita ikuti untuk menghidupkan kebiasaan-kebiasaan baiknya tentu sebatas kemampuan kita.

Allah memerintahkan hambanya untuk senantiasa meneladani Rasul-Nya, rule model dalam segala bentuk kebaikan untuk kehidupan manusia di dunia ataupun di akhirat. Baik dalam bertutur, sopan santun dalam bersikap, rendah hati dan tak pernah sombong. Itulah akhlak mulia sang Nabi saw.

Kesabarannya ditempa semasa kecil selagi dalam kandungan. Sang ayah mendahului pergi ke alam baka. Lahir tanpa mengetahui wajah sang ayah adalah kenyataan yang sangat pahit sekali.

Selang enam tahun usia kanak-kanaknya, sang ibu pun menyusul ayahandanya. Kesedihan tak terperikan, kehilangan kedua orang tua, yatim-piatu di usia yang masih sangat membutuhkan kehangatan dekapan kasih sayang dari seorang ibu dan ayah.

Sang paman pun membimbingnya saat usia menginjak remaja, seorang yang sangat mencintainya. Sedikit rasa sedih itu berkurang, namun kehidupan sang paman pun tak sebaik nasib dirinya.

Sama-sama serba kekurangan, dengan latar belakang kehidupan yang perih itulah Allah menyiapkan Sang utusan agar kelak terbiasa menghadap berbagai macam kesulitan yang akan dihadapi.

Uswah (teladan) inilah yang harus diikuti oleh para pengikut sang Nabi, tidak cengeng menghadapi kesusahan-kesusahan dalam kehidupan, tegar dan sabar menapaki setiap jenjang ujian kehidupan, tak pernah hilang arah dalam mengikuti jejak sang Nabi tetap Istiqomah dalam menggerakkan dakwah seperti amanat sang Nabi saw.

Kesuksesan Nabi saw. di dunia dan akhirat akan terasa pula bagi para pengikut setianya. Dakwah dengan teladan terbukti lebih berdampak daripada berdakwah hanya mengandalkan retorika belaka.

Objek dakwah pun akan merasa dimuliakan karena tidak ada paksaan untuk menerima ajakannya. Akhirnya tujuan dari dakwah pun tercapai tanpa ada yang terganggu kehidupannya.

Pilihan kata tatkala mengajak orang berbuat baik pun bukan dengan, "Silahkan lakukan ini dan itu, tapi mari bersama-sama kita kerjakan." Ini cukup membuat mad'u (objek dakwah) bersimpati yang akhirnya tujuan dakwah tersampaikan.

Untuk menghindari gesekan di kalangan awam, maka seorang Da’i haruslah memahami Psikologi dan Sosiologi dakwah.

Mengerti bagaimana kejiwaan orang yang diajak bicara, kemudian memahami kultur atau budaya masyarakat setempat. Tanpa mencampur adukan keyakinan dengan aturan Islam yang sudah baku.

Mencerahkan masyarakat yang belum pernah mendalami urusan agamanya, dengan harapan suatu saat dakwah tersebut berbuah ketaatan kepada Allah berdasar ilmu bukan lagi hanya meraba-raba.

Seperti kata pepatah bijak "Bahwa berdakwah dengan contoh yang baik itu lebih mengena daripada ceramah di atas mimbar."

Di sinilah seorang Da’i di tuntut memiliki integritas yang tinggi terhadap ajaran yang di embannya, agar para jamaah pun tak ragu lagi untuk mengikutinya.

Maka keteladanan adalah suatu keniscayaan yang harus dimiliki oleh seorang Da’i sebagai representasi wajah Islam, yang meliputi sikap dan cara bicaranya sehari-hari.

Jika dia bersikap buruk maka Islamlah yang tercoreng dengan keburukan perangainya namun jika dia bersikap ramah dan baik, kehidupannya dihiasi akhlak karimah, maka Islam pun terbawa harum dengan sikap baiknya tersebut.

Sejatinya itulah yang diajarkan Islam melalui Nabi-Nya. Beliau menjelaskan “Bahwa Aku diutus tiada lain hanya untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”

Berdakwahlah dengan teladan yang baik, hiasi dengan akhlak al-karimah, maka apa yang ingin kau sampaikan masuk menembus mata hati mereka.


Komentar