Husain bin Ali r.a adalah juga cucu kedua Nabi Muhammad saw. Dari putrinya sayyidah Fatimah r.a. Cucu kesayangan Nabi bahkan disebut -sebut sebagai penghulu anak muda di surga. Dia lahir pada tahun 4 H (626 M), nama asli ketika dilahirkan adalah Harb yang berarti perang. Namun kemudian oleh Rasullah saw di ganti dengan Husain r.a, nama yang asing ketika itu di kalangan bangsa Arab.
Di hari kelahirannya Nabi saw mentahniq (mengunyah kurma lalu disuapkan pada mulut bayi) Husain r.a, pada hari ketujuh layaknya bayi-bayi muslim lainnya, di laksanakan aqikahnya, dicukur rambutnya dan diberi nama yang baik yaitu Husain r.a Husain r.a tumbuh bersama saudaranya yaitu Hasan r.a, kakak-beradik dan langsung mendapat bimbingan awal dari Nabi saw, sebagai kakek.
Namun nampaknya kebersamaan mereka tidak berlangsung lama, saat Husain r.a menginjak usia 7 tahun, sang kakek pun wafat. Rasulullah saw wafat pada tahun 11 H di usia ke 63 tahun. Kesedihan menyelimuti seluruh penjuru kota Madinah, kaum muslimin sangat berduka sekali, ditinggal oleh sang kekasih pemimpin umat nan adil. Memang begitulah siklus manusia tidak ada kehidupan yang abadi di dunia ini, semua kembali ke haribaan dzat Ilahi.
Tak terkecuali Husain, Dia sangat sedih kehilangan sang kakek yang mencintainya. Tapi, kesedihan ini bukanlah kesedihan yang terakhir. Karena enam bulan setelahnya sang ibunda tercinta pun menyusul kakeknya, meninggalkan alam fana menuju alam baka, jadilah Hasan r.a dan Husain r.a seperti anak ayam ditinggal induknya, kesedihan yang tak terperi. Kini mereka berdua hanya mendapat kasih sayang dari sang ayah saja yaitu Ali bin abi thalib r.a. Di bawah asuhan ayahandanya Husain r.a tampil menjadi pemuda pemberani, tegar, berwibawa, dan cerdas seperti ayahnya.
Masa kepemimpinan Abu Bakar Shiddiq r.a, kemudian umar bin al khattab r.a, Dia tumbuh menjadi seorang dewasa. Dan ketika terjadi penyergapan terhadap Khalifah Ustman bin Affan r.a di rumahnya, Dia tampil membela sang Khalifah, namun api fitnah terlanjur berkobar dan kian membara, akhirnya Khalifah Ustman bin Affan terbunuh bersimbah darah bersama al-qur'an dalam dekapannya. Sebab itulah Mu'awiyyah bin Abi sufyan -gubernur syam- saat itu, merasa berang dan meminta pertanggung jawaban kepada Khalifah Ali bin abi thalib yang di bai'at sesaat setelah pembunuhan Utsman r.a. dengan kata lain Mu'awiyyah tidak akan mengakui kekhilafahan Ali bin Abi thalib sebelum para pembunuh Utsman dihadirkan di mahkamah pengadilan. Inilah awal mula pertikaian klan Bani Umayyah dengan Bani Hasyim.
Setelah itu kemudian kepemimpinan kaum Muslimin terpecah menjadi dua kubu, satu kubu Ali bin Abi thalib r.a dengan pusat pemerintahan di Madinah kemudian pindah ke kufah, dipihak lain Mu'awiyyah bin Abi sufyan r.a yang berpusat di Syam. Tak lama kemudian Khalifah Ali bin Abi thalib terbunuh di suatu subuh oleh sabetan pedang Ibnu Mulzam, penganut sekte Khawarij. Kemudian kaum Muslimin mengangkat Alhasan r.a sebagai pemimpin baru, walaupun Hasan sendiri enggan untuk dipilih menjadi Khalifah.
Tapi akhirnya dia menerima juga pembai'atan dari kaum Muslimin Madinah, namun perjalanan kepemimpinannya tidaklah berjalan lama karena Hasan r.a terkenal memiliki karakter lembut dan suka perdamaian. Karakter Hasan yang lebih menyukai perdamaian membuat ia mengirim surat kepada Muawiyah, isinya mengajak Muawiyah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah membai'atnya sebagai khalifah. Namun, Muawiyah yang telah berpengalaman dalam dunia politik justru menjawabnya dengan sinis.
“Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu," jawabnya.
Muawiyah lalu melanjutkan dalam surat balasannya bahwa dirinya yakin jika ia lebih sanggup menjadi khalifah daripada Hasan karena lebih tua dan berpengalaman. Ia bahkan menyuruh Hasan untuk mendukung dirinya sebagai khalifah. Akhirnya Hasan dengan berbagai pertimbangan kemashlahatan Islam dan kaum Muslimin dia rela menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada Mu'awiyyah dan mengakui Mu'awiyyah sebagai Khalifah kaum Muslimin.
Maka terkenal lah tahun itu dengan sebutan 'amul jama'ah yang bermakna tahun persatuan. Sikap Husain r.a mendengar kakaknya mengakui Mu'awiyyah sebagai khalifah dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya mula-mula bersikeras menolak gagasan tersebut. Namun akhirnya dia pun melemah juga sikapnya dan akhirnya mau menerima juga kepemimpinan Mu'awiyyah r.a.
Pada tahun 49 H Hasan r.a wafat, dan kaum Muslimin masih dibawah kekuasaan dinasti umayyah merasakan kedamaian. Selama hampir 20 tahun Mu'awiyyah r.a memimpin umat, akhirnya Mu'awiyyah pun wafat pada tahun 60 H. Sebelum wafat Dia berwasiat bahwa kepemimpinan setelahnya adalah putranya sendiri yaitu Yazid bin Mu'awiyyah.
Di sinilah awal sistem pemerintahan dinasti, pemerintahan turun temurun dan ini pula awal pemicu perpecahan antara kubu Bani Hasyim di Madinah dengan kubu Bani Umayyah.
Gejolak politik atas pemilihan Yazid bin Mu'awiyyah ini pun terasa "memanas" di Madinah, warga Madinah ramai-ramai membai'at Husain bin Ali r.a. Sementara warga Kufah pun menyatakan dukungannya terhadap Husain r.a, dengan mengirim surat dan mengundang Husain untuk hadir ke kota kufah, kota yang pernah menjadi ibu kota kekhalifahan di masa ayahnya, yakni Ali bin Abi thalib. Di tengah ketidakstabilan politik itu, Husain memutuskan untuk memutus Muslim bin Aqil sepupunya ke Kufah untuk memastikan dukungan warga Kufah.
Namun Muslim bin Aqil tak kunjung kembali, akhirnya Husain berniat untuk menghadiri undangan warga Kufah sekaligus memastikan keberaadaan saudara sepupunya itu. Namun niatnya tersebut dihalangi banyak sahabat, di antaranya Ibnu Umar, karena Ibnu Umar sangat mengetahui sepak terjang warga kufah sejak dulu. Kebanyakan warga Kufah perangainya buruk serta sulit di percaya. Akan tetapi Husain sudah membulatkan tekadnya untuk tetap pergi ke Kufah dengan membawa rombongan keluarga besarnya. Apapun yang terjadi itu semua pasti sudah kehendak Allah Swt, fikirnya.
Tampaknya rencana Husain ini tercium juga oleh Yazid, sehingga dia mengutus panglimanya untuk menyatuk Basrah dan Kufah dalam satu komando di bawah panglima Ubaidillah bin Ziyad. Setelah Basrah dan Kufah berhasil di konsolidasikan, Ubaidillah mengutus Alhurru bin Yazid dengan membawa 1000 orang pasukan untuk menghadang Husain di gerbang kota. Kemudian di tengah perjalanan 4000 orang pasukan di bawah komando Umar bin Sa'ad pun bergabung.
Akhirnya mereka berjumpa dengan rombongan Husain r.a beserta keluarganya di padang Karbala. Terjadi dialog antara dua pasukan tersebut yang intinya rombongan Husain harus putar arah kembali ke Madinah. Namun diplomasi Husain tidak merubah pendirian pasukan Yazid tersebut, akhirnya terjadi lah pertempuran yang tidak seimbang antara dua pasukan. Husain tertusuk tombak kemudian jatuh tersungkur dan kepalanya dipancung.
Peristiwa ini mengingat kan kepada kita tentang kejadian bentrokan maut saat perang shiffin dan perang jamal. Di medan Karbala 72 orang keturunan Rasulullah saw. Di bantai oleh kaum fasik lagi munafik.
Adakah fitnah yang lebih besar lagi daripada pembunuhan terhadap dzurriyyah Nabi.
Komentar
Posting Komentar